Goda Martinez, Barcelona Tawarkan Gaji Rp 5,95 M Per Pekan

Goda Martinez, Barcelona Tawarkan Gaji Rp 5,95 M Per Pekan

Sebuah manuver baru dibuat Barcelona untuk mengamankan tanda tangan Lautaro Martinez. Penyerang Inter Milan itu dikabarkan bakal diberikan gaji selangit jika bersedia pindah ke Camp Nou musim depan.

Lautaro Martinez yang baru berusia 22 tahun memang tampil cukup impresif musim ini. Bersama Nerazzurri, ia sudah mengoleksi 16 gol dari 30 penampilan di semua ajang kompetisi.

Ketajaman junior Lionel Messi di timnas Argentina tersebut membuat sejumlah klub papan atas Eropa berlomba untuk mendapatkan jasanya pada bursa musim panas Juni mendatang. Bahkan sudah ada beberapa klub yang disebut tengah menyiapkan tawaran menggiurkan buat Inter agar bersedia melepas penyerang mudanya itu.

Dilansir dari Daily Star, dari kesemua klub elit Eropa yang serius membidik jasa Lautaro, Barcelona disebut menjadi yang sangat agresif untuk bisa segera membawa Lautaro keluar dari Italia musim panas nanti.

Tak tanggung-tanggung, tim Catalan dilaporkan akan memberi gaji kepada Lautaro sebesar 17,5 juta euro per musim atau setara Rp 288 miliar yang jika dihitung per minggunya, sang striker akan mendapatkan sekitar Rp 5,95 miliar per pekan.

Demi memuluskan upayanya ini, Barcelona juga diberitakan sudah meminta bantuan kepada Messi untuk membujuk kompatriotnya itu agar mau bergabung dengan mereka musim depan. Inter sendiri dikabarkan baru mau melepas sang bomber jika ada klub yang berani menebusnya di angka 120 juta euro.

Adrian San Miguel Layak Dipersalahkan Atas Tersingkirnya Liverpool dari UCL

Mantan pemain Liverpool, Steve Nicol mengkritik keras performa Adrian San Miguel saat melawan Atletico Madrid. Menurutnya karena dia Liverpool tersingkir.

Liverpool memang menyudahi perjalanan di Liga Champions pada babak 16 besar. Mereka angkat koper setelah kalah agregat 4-2 dari Atletico Madrid.

Kans Liverpool untuk lolos terbilang besar mengingat mereka sempat unggul 2-0. Namun kesalahan Adrian membuat Atletico kemudian mampu membalikkan keadaan menjadi 2-3.

“Anda lihat itu [penampilan Adrian]? Jika ada orang yang bertanya mengapa Anda menghabiskan 66 juta pounds hanya untuk membeli kiper, Anda baru saja melihat jawabannya

“Liverpool unggul 2-0 di babak tambahan. Mereka sudah lolos, jika tidak kebobolan, mereka jelas akan lolos. Memang benar, mereka seharusnya bisa menuntaskan itu lebih awal, tapi faktanya mereka kalah karena kiper,” tegas Nicol kepada ESPN FC.

Nicol menambahkan, tidak perlu ada pembelaan atas penampilan Adrian. Menurutnya Adrian layak menjadi kambing hitam atas kekalahan Liverpool. 

“Jika kiper tidak memberikan gol pertama lawan dengan cuma-cuma, Liverpool pastinya lolos. Selain di menit pertama, Atletico Madrid tidak pernah menunjukkan tanda-tanda mampu mencetak gol. Mereka bahkan tidak pernah mendekati gawang Liverpool.

“Liverpool benar-benar dominan, komplet, mengontrol penuh, tapi karena satu pemain saja membuat kesalahan, mereka akhirnya tersingkir. Anda tidak bisa mencari alasan lain, itulah faktanya,” tandasnya.

Wolverhampton Siapkan Dana Triliunan Rupiah Untuk James

Wolverhampton Wanderers bersedia menghabiskan Rp untuk membawa playmaker Real Madrid, James Rodriguez ke Molineux Stadium pada musim panas ini.

Pemain Internasional Kolombia itu telah berjuang untuk mendapatkan waktu bermain. Namun sampai sekarang, ia nyaris tidak keluar dari bangku cadangan pada tahun 2020 ini.

Diwartakan dari The Sun, salah satu klub Liga Premier Inggris tersebut telah menghubungi sang agen, Jorge Mendes untuk menanyakan tentang harga James.

Wolverhampton Wanderers bersedia menukarkan pemain andalannya, Raul Jimenez untuk ditukarkan dengan James Rodriguez. Ini menjadi salah satu langkah Wolves tuk dapatkan sang pemain.

Sebagai informasi, Real Madrid mengontrak pemain berusia 28 tahun itu dari Monaco pada 2014 setelah penampilannya yang luar biasa bersama Kolombia di Piala Dunia .

Sementara itu, Wolves saat ini berada di posisi enam Liga Premier Inggris. Mereka memiliki 43 poin yang mana lima poin di bawah tempat Liga Champions.

Mantan Pemain Liverpool Luis Garcia Peda Timnya Bisa Jungkalkan Atletico

Mantan pemain Liverpool, Luis Garcia menilai mantan timnya bisa lolos dari lubang jarum dengan comeback atas Atletico Madrid. Kedua tim bakal bersua pada leg kedua yang bakal dihela Kamis (12/3) dini hari WIB.

Di leg pertama, Atletico sukses menang 1-0 berkat gol cepat Saul Niguez di menit keempat. Untuk lolos dari jerat Atletico, Liverpool harus menang dengan skor 2-0 di Anfield. Garcia pun optimis Liverpool masih memiliki kualitas untuk berbicara banyak di ajang termahsyur se- Eropa itu.

“Sejujurnya, [saya pikir akan] sulit bagi kedua klub. Mereka tahu Anfield adalah stadion yang sulit dan tidak banyak tim yang keluar hidup-hidup; penonton selalu membantu tim tuan rumah. [Tapi] sebenarnya, mereka tahu [Diego] Simeone tahu bagaimana menghadapi situasi semacam ini,” ujar Garcia di laman resmi klub, dinukil Goal International.

“Setelah apa yang kita lihat di Metropolitano, di mana mereka bekerja dengan cara yang biasa mereka lakukan–bertahan dengan sangat bagus, menunggu peluang dan transisi yang cepat serta serangan balik yang mereka lakukan dengan sangat baik–mereka masih berpikir akan bisa melakukan itu.”

Ia merasa Liverpool bisa mencetak gol dan tahu apa yang harus mereka lakukan di Anfield. Menurutnya, armada Jurgen Klopp hanya perlu mencetak gol lebih banyak guna memastikan diri lolos ke fase selanjutnya.

Punya Kans Karlsen Gabung Barcelona, Odegaard Loyal Pada Madrid

Martin Odegaard sempat menggemparkan publik sepakbola Spanyol setalah Real Madrid memboyongnya. Sayang, minim menit bermain membuatnya harus dipinjamkan ke Real Sociedad.

Kent Karlsen mengungkapkan seyogyanya sebelum Madrid datang pada 2015, Barcelona sudah lebih dulu datang memberikan penawaran kepada Odegaard. Namun saat itu, Barcelona tengah menjalani sanksi embargo transfer terkait transfer pemain muda.

“Kami menggelar rapat di Norwegia, kemudian kami diundang ke Barcelona untuk bertemu Andoni Zubizarreta dan membahas soal proyek pengembangan sepakbola usia muda, termasuk didalamnya soal kans bergabung Martin di Barcelona.

“Barcelona merupakan klub hebat, tapi Martin dan ayahnya lalu menganalisa banyak hal sebelum akhirnya mereka mengambil keputusan memilih Madrid sebagai klub berikutnya,” Karlsen sepeti dilansir dari Cadena SER.

Lebih lanjut, Karlsen menyebut kans Odegaard bergabung dengan tim Catalan sangat besar karena keberadaan Lionel Messi yang sangat diidolakannya. Namun faktor Zinedine Zidane sebagai pelatih di Real Madrid membuatnya berubah pikiran.

“Tentu saja dia ingin bermain bersama idolanya sejak kecil, Leo Messi. Dia selalu berusaha meniru cara Messi melepaskan umpan, mendribble, dan mencetak gol. Namun pada akhirnya Madrid datang menawarkan paket komplet, Zinedine Zidane disebut akan banyak melibatkan dia dalam tim, berlatih bersama tim utama dan itu sungguh rencana bagus.

“Keberadaan Zidane juga membuat Madrid sangat yakin dengan proyek pemain muda mereka, dan pada akhirnya dia lebih menuruti perkataan itu dan menolak Barcelona,” tutupnya.

Lakukan Blunder Konyol, Legenda Manchester United Ingin Habisi De Gea

Legenda Manchester United, Roy Keane, mengaku ingin menghabisi David de Gea setelah melakukan blunder konyol melawan Everton.

Manchester United yang bertandang ke markas Everton di matchday 28 Premier League di Goodison Park, Minggu (01/03/2020) harus tertinggal terlebih dahulu melalui gol Dominic Calvert-Lewin di menit awal.

Gol tuan rumah sejatinya bisa dicegah andai De Gea tak melakukan kesalahan fatal. Kiper asal Spanyol itu mengulur waktu dengan menahan bola yang ketika ia buang justru mengenai Calvert-Lewin. Si kulit bundar lantas bergulir masuk ke gawang United.

Roy Keane Emosi, Kesalahan De Gea itu lantas memancing emosi Keane. Ia bahkan mengatakan bisa saja menghabisi sang kiper jika berada dalam satu ruang ganti.

“Entah saya sebagai seorang pemain atau manajer, saya akan menghabisinya,” tegas Keane kepada Sky Sports.

“Apa yang ditunggu De Gea? Ini gila,” ketus Keane.

“Ada sedikit kesombongan baginya. Saya akan menggantung dirinya di paruh waktu. Tidak ada alasan,” tegasnya lagi.

Tidak hanya De Gea, Keane juga mengkritik performa Jordan Pickford. Kiper Everton itu berdalih bola sepakan Bruno Fernandes berubah arah sehingga ia sulit mengantisipasinya.

“Saya tidak ingin mendengar bahwa bola itu bergerak. Jelas itu bergerak, seseorang menendangnya!”

“Intinya dengan Pickford … Saya tidak perlu melihat statistiknya. Saya tahu ia bukan penjaga gawang yang bagus. Ia tidak sanggup melakukannya.”

Laga itu sendiri akhirnya berakhir imbang 1-1. Tambahan satu angka membuat misi Man United memangkas jarak dengan empat besar terbuang sia-sia.

Kekalahan dan Kegagalan Maurizio Sarri Ball Ala Juventus

Maurizio Sarri mengakui penggawa Juventus kesulitan memahami taktik yang diterapkan saat bertemu Lyon di leg pertama 16 besar Liga Champions, Kamis (27/2) dini hari tadi. Hasilnya Si Nyonya Tua  takluk 1-0 dalam laga yang digelar di Groupama Stadium tersebut. 

Usai pertandingan, Sarri, mengaku kecewa dengan penampilan anak asuhnya. Menurutnya para pemain tak kunjung paham dengan skema permainan yang coba ia terapkan dalam pertandingan. 

“Saya tidak melihat para pemain memahami soal pentingnya menggerakkan bola dengan cepat. Ini hal mendasar, kami akan terus melatih itu dan cepat atau lambat konsep ini akan masuk ke kepala mereka.

“Saya berulang kali memberitahu mereka, dan ada banyak yang mencoba melakukannya, menggerakkan bola terlalu lambat dan kemudian berada di posisi yang salah.

“Kami berlatih kemarin dan bola bergerak dua kali lebih cepat dari malam ini. Ini kebalikan dari apa yang harusnya terjadi. Belakangan ini kami melakukan banyak hal yang berlawanan dengan apa yang kami lakukan di sesi latihan,” ujar Sarri kepada Sky Sport Italia.

Lebih lanjut, kekalahan yang didapati skuadnya, menurut Sarri murni karena kegagalan skema anak asuhnya. Pasalnya, sang pelatih merasa, Lyon tak terlalu berbahaya dengan pressing longgar yang diperagakan. 

“Saat bola bergerak lambat, anda akan kehilangan posisi Anda, Anda membiarkan lawan untuk menutup anda, menjadi lebih agresif dan mencuri bola kembali. Saya tak merasa kalau Lyon menekan kami dengan kuat.

“Kami hanya menggerakkan bola dengan pelan, tak pernah mencoba memainkan variasi tempo, dan saat anda melakukan itu, sudah jelas anda tidak akan menciptakan apapun,” katanya. 

Pep Guardiola Begitu Cerdik Bikin De Bruyne Takjub

Pep Guardiola begitu cerdik dalam meramu taktik saat Manchester City berhasil menang atas Real Madrid. Manchester City berhasil mencuri kemenangan 1-2 atas Real Madrid pada leg pertama 16 besar Liga Champions. Sempat tertinggal lewat gol Isco, City mampu membalikkan keadaan masing-masing melalui Gabriel Jesus (78′) dan penalti Kevin De Bruyne (83′).

Kemenangan City pada laga tersebut tentu tidak lepas dari peran Guardiola. Menariknya, pelatih asal Spanyol itu menerapkan taktik yang tak lazim di Santiago Bernabeu.

Guardiola yang biasanya menggunakan formasi 4-3-3 memutuskan untuk menggantinya menjadi 4-4-1-1. Anehnya lagi, Guardiola memainkan Gabriel Jesus sebagai sayap kiri.

Posisi penyerang justru diberikan kepada Bernardo Silva yang disokong oleh De Bruyne bermain sebagai gelandang serang. Skema berjalan dengan cukup baik di mana City membombardir pertahanan Madrid.

Namun Zinedine Zidane sepertinya mampu membaca arah permainan Guardiola. Hal itu terbukti di mana Isco berhasil membawa tuan rumah unggul terlebih dahulu.

Guardiola kembali memutar otak. Ia kemudian menggantikan Bernardo dengan Raheem Sterling. Hal ini membuat Jesus kembali ke posisi alaminya sebagai penyerang. Pemain asal Brasil itu kemudian mencetak gol penyeimbang. Aksi sterling juga berhasil membuahkan penalti untuk City.

Keputusan-keputusan Guardiola itu kemudian membuat De Bruyne dan pemain City terkejut.

“Saya merasa dalam empat tahun kami di sini bersama Pep, ada beberapa kejutan yang dihadirkan. Para pemain bahkan tidak benar-benar tahu sampai pertandingan dimulai apa yang harus dilakukan,” ujar De Bruyne dikutip dari Guardian.

“Ini adalah awal yang sangat baik bagi kami. Respon (untuk gol Isco) sangat brilian. Sekarang, kami akan bermain di final Carabao Cup melawan Aston Villa pada hari Minggu dan kami harus siap,” jelasnya.

Pihak Federasi Sepakbola Inggris (FA) Dakwa Alli Usai Gunakan Virus Corona Sebagai Lelucon

Pihak Federasi Sepakbola Inggris (FA) resmi menjatuhkan dakwaan gelandang Tottenham Hotspur, Dele Alli (23 tahun), terkait aksi lelucon sang pemain terkait virus corona.

Dalam dakwaan tersebut, FA menyebut jika Alli telah melanggar peraturan FA poin E3 menyoal aktivitas pemain sepak bola di media sosial. Mereka menyebut jika apa yang dilakukan Alli telah membawa dampak negatif untuk sekitar.

“Gelandang Tottenham Hotspur [Alli] melanggar Aturan FA poin E3 (1) karena menghina dan/atau tidak patut dan/atau membuat pertandingan menjadi buruk,” begitu bunyi pernyataan FA, Rabu (26/2).

“Unggahan [Alli] tersebut merupakan ‘Pelanggaran yang Menyinggung’, yang dalam Peraturan FA E3 (2), termasuk merujuk, baik tersurat maupun tersirat, ras dan/atau kulit warna dan/atau warna dan/atau asal etnis dan/atau kebangsaan,” begitu selanjutnya.

Keputusan FA tersebut mengacu pada video lelucon yang diunggah Alli pada (8/2). Dengan menggunakan topik virus corona, pemain asli Inggris tersebut melontarkan ejekan kepada seorang pria Asia saat berada di bandara. Unggahan video melalui Snapchat itu pun telah menyebar luas.

Setelah sadar membuat kesalahan, Alli kemudian membuat video permintaan maaf atas kesalahannya tersebut dan menyampaikan rasa penyesalan secara langsung dengan menggunakan media sosial Tiongkok, Weibo.Corona sendiri kini mulai masuk ke Eropa. Italia dan Spanyol menjadi dua negara yang sudah melakukan pencegahan ketat terkait virus satu ini. Bahkan di Italia, beberapa laga harus ditunda demi mencegah penyebaran virus mematikan satu ini.

Bermain di kubu rival, Paul Pogba Tak Sudi Liat Liverpool Juara

Bermain di kubu rival, Paul Pogba mengaku sulit untuk menerima kenyataan jika Liverpool memenangi Premier League. Namun ia juga melihat jika mereka layak untuk mendapatkannya.

Hingga pekan 27 Premier League musim 2019/2020, Liverpool kian tak terkejar dari lawan-lawannya. Tercatat mereka berhasil mengantongi 79 poin tanpa merasakan satu pun kekalahan.

Keunggulan 22 poin dari Manchester City di peringkat dua pun cukup sulit untuk dikejar. Dengan 11 laga tersisa, Liverpool hanya perlu memenangi empat saja untuk menggenggam erat trofi Premier League pertama mereka.

Catatan gemilang Liverpool tersebut membuat Pogba tak bisa berbuat banyak. Meski bermain untuk Manchester United, Pogba melihat jika Liverpool memang layak untuk juara musim ini. Menurutnya sang rival sudah berkembang begitu pesat.

“Liverpool jauh di depan semua klub. Mereka belum terkalahkan pada satu pertandingan pun musim ini di liga. Satu tangan Liverpool sudah memegang trofi Premier League,” kata Paul Pogba dikutip dari ESPN.

“Sebagai pemain Manchester United dan rivalitas yang ada di antara kami, kami tidak ingin melihat Liverpool menjadi juara,” ucap Paul Pogba.

“Kami tidak ingin klub lain menang selain dari kami sendiri, tetapi sebagai pencinta sepak bola dan pemain yang menghormati tim lawan, saya harus mengatakan bahwa mereka layak berada di tempat mereka.”

“Liverpool bahkan lebih baik daripada musim lalu ketika mereka memenangkan Liga Champions dan musim sebelumnya ketika mereka menelan kekalahan di final lawan Real Madrid.”

Liverpool juga masih berkesempatan meraih gelar lain musim ini. Dua gelar tersebut adalah Piala FA dan Liga Champions.